Selasa, 21 Juli 2009

Laki-laki itu ternyata perempuan

Kita pasti sering mendengar orang mengatakan,”Apalah arti sebuah nama.” Kalimat pendek ini pula yang pernah dikatakan oleh Sheakspeare dan kemudian dikutip oleh banyak orang. “What is in the name? Ketika kalimat seperti ini dipakai, umumnya orang berpikiran dan beranggapan tentang kondisi tidak mau meninggikan diri. Merendahkan diri. Tidak mau sombong dan tidak mau orang lain mengetehaui “jasa baik” yang kita lakukan.

Walaupun bukan seperti ini konteks asli ungkapan Sheakspeare. Cerita di atas rupanya tidak berlaku kali ini bagi saya. Saya kena batunya. Bagimana tidak? Saat posting ini saya tulis, di kantor lagi ada seminar yang diikuti oleh gereja-gereja di Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Tugas saya di sekretariat—sebagai sekertaris. Sayalah dan seksi pendaftaran yang menerima data tentang peserta dan segala sesuatunya.

Ketika ada calon peserta yang kirim data via email, dan saya lihat nama-nama yang disertakan kebanyakan perempuan dan ada satu Benny, otomatis (tapi salah) saya masukkan semua ke peserta perempuan kecuali si Benny. Saya input namanya di kolom laki-laki. Dan inilah awal dari cerita menggelikan sekaligus “ironis” bagi saya.

Data dari saya menentukan kamar di mana dan dengan siapa Benny harus tinggal. Sekali lagi, cerita inilah yang menggelikan. Ketika registrasi dilakukan saya tidak berada di sekitar meja pendaftaran karena memang bukan tugas saya di sana. Saya mengurusi yang lain. Ketika sedang berjalan ke area pendaftaran ulang, seorang rekan panitia yang adalah bagian akomodasi mengatakan,”Kamu harus tanggungjawab!”

“Tanggungjawab?, Tanggung jawab apa?” tanya saya.

“Benny itu perempuan…!” kata teman saya dengan muka serius.

“Ha…ha…!” saya tak kalah terkejut dan seriusnya. "Lalu kamarnya bagaimana?,”tanya saya. “Terpaksa dia dicarikan kamar sendiri dan harus tinggal sendiri,”teman saya menimpali.

Sampai situ saya lega karena si Benny ternyata sudah mendapatkan kamarnya walaupun harus sendiri. Urusan kamar sudah selasai tetapi masih ada satu urusan lagi—minta maaf sama si Benny. Segera saya cari si Benny dan meminta maaf atas kesalahan ini. Untungnya, si Benny tipe orang periang dan bisa memahami kesalahan yang saya lakukan. Akhirnya kami justru bisa bercakap-cakap dengan lebih baik dan lebih bersahat seolah-olah kami sudah kenal lama.

Don’t judge book by the cover begitu orang bule mengatakan. Jangan menilai buku atau apapun dari tampilan luarnya. Tapi masalahnya, kali ini saya bahkan tidak bisa melihat cover itu karena tidak ada ketentuan bagi peserta untuk melampirkan fotonya. Ya, paling tidak dari kekeliruan semacam ini, saya pribadi akan lebih hati-hati dan belajar untuk tidak “menilai” seseorang hanya dari tampilan namanya.

Benny.. oh Benny…betapa bodohnya aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar